WE NEVER KNOW OUR STORY
‘Cinta itu buta’ omong kosong dari mana jika cinta itu
buta? Memangnya cinta punya mata? Kebodohan mana lagi yang kudapatkan, cinta
hanyalah cinta, tidak ada yang namanya cinta itu buta yang ada hanyalah manusia
yang terlibat asmara didalamnya yang membutakan dirinya sendiri. Bagaimana bisa
terjadi? Bisa terjadi kalau manusia tersebut sudah melampaui batasnya dalam
mencintai pasangan, seperti menghilangkan keburukannya menjadikan hal tersebut
dasar bahwa ia mencintai kita kemudian hal tersebut berlanjut dan menjadikannya
toxic relationship dan bagiku hal tersebut merupakan kebodohan. Suatu kebodohan
besar yang pernah dilakukan selama hidupnya dan aku termasuk dalam kalangan
para ‘bodoh’ itu mendengarkan keluh kesah mereka yang dianggap mereka merupakan
suatu kewajaran bagi mereka melakukan hal tersebut dan tak sedikit juga aku
bereaksi yang tak mengenakkan terhadap mereka seperti yang kulakukan saat ini
ketika aku dan ketiga temanku berkumpul didalam apartemenku hanya untuk
mengeluarkan uneg-uneg yang mereka rasakan saat ini dengan tujuan awalnya
adalah untuk menjengukku yang sedang demam dan berubah haluan menjadi ajang
keluh kesah mereka terhadap pasangan masing-masing. Cukup bagiku untuk
mendengarkan keluh kesah mereka yang tak wajar disaat keadaanku pun sedang
lemah dan mood yang sedang diambang kehancuran, aku mulai memejamkan mata dan
menjadi semua keluh kesah mereka bagaikan alunan denting piano yang dilakukan
oleh bethoven dalam fur elise, dentingan halus nan lembut yang mampu merasuki
tubuhku hanya untuk dapat menenangkan segala perasaanku yang berkecamuk selama
beberapa hari ini. Seakan hanyut dalam khayalan yang kubangun sebelumnya dan
dengan seketika hancur dengan goncangan keras pada tubuh lemahku ini.
“Apa sih?!” Keluhku
“Na, kamu harus dengerin kita dulu!” Paksa Putri
“Setelah aku dengerin, apa yang kamu harapin dari
aku?” Tantangku
“Hemmm… solusi mungkin.”
“Solusi yang aku kasih kekalian pernah kalian lakuin?”
Tanyaku kembali dan taka da satupun yang menjawab pertanyaan hingga menit telah
menunjukkan angka kelima “ Enggak ada kan sekalipun ada kalo kalian udah
kepentok atau sadar yang aku bilang itu ternyata bener. Kalian Cuma mencari
pembelaan terhadap diri kalian sendiri karena kalian tahu dalam hati kecil kalian
yang sebenernya kalian lakuin adalah salah tapi kalian enggak mau mengakuinya.
Gengsi yang kalian miliki itu terlalu tinggi. Satu lagi didalam hidup ini cuma
ada hitam dan putih, iya atau tidak, enggak ada opsi ketika yang namanya
abu-abu, paham kan. Ibaratnya kalian take it these relationship or leave it! Enggak
ada ceritanya dia akan berubah it’s a bullshit that I’ve ever heard! Jangan
terlalu tenggelam dalam angan-angan yang kalian buat karena itu enggak akan
pernah terjadi dalam dunia nyata.” Ujarku
Bagaikan seorang ustadzah yang sedang memberikan
ceramah didalam pengajian atau seorang motivator yang sedang memberikan suatu
motivasi kepada orang sekitarnya yang tenang untuk mendengarkan setiap kata
yang terucapkan dan itu lah yang saat ini dilakukan para sahabatku yang telah
kukenal sejak SMA, untung sahabat bukan teman kalo mereka adalah temannku
mungkin saat ini sudah kutendang keluar mereka satu persatu.
“Do you get what I mean?” Tanyaku dan anggukan lah
yang menjadi jawaban mereka
Ketika anggukan yang kudapatkan adalah jawaban bahwa
mereka memahami keadaanku saat ini yang tidak dalam keadaan in good mood,
karena ketika aku telah mengeluarkan segala petuah yang notabene adalah
uneg-uneg yang kumiliki dan tidak menjadi pendengar yang baik pula maka aku
sedang berada didalam keadaan mood yang baik.
“Na, ini enggak ada hubungannya dengan dia kan? Aku
denger kalo sekarang laki-laki itu kembali ke Indonesia lagi.” Tanya Clara
hati-hati
Diam. Hanya itu yang kulakukan.
“kamu serius ra?” Tanya Putri dan Salsa yang terkejut
mengetahui kenyataan yang baru saja mereka dengar.
Seakan terbawa kembali kemasa lalu dimana hidupku
begitu bahagia dengan laki-laki yang saat ini sangat kubenci. Hanya untuk
melihat wajahnya saja aku tidak sanggup terbayang bagaimana kejadian saat ia
menghianatiku dengan seorang wanita yang notabene adalah sahabatku.
Flashback…
Malam yang sunyi dengan gemerlap
malam diluar sana tidak membuatku bergairah untuk menyapanya karena yang
kubutuhkan saat ini hanya kesunyian, diriku sendiri, dan secangkir kopi hitam
tanpa gula yang justru akan membuat kopi tersebut mengeluarkan manisnya secara
natural serta kafein yang dimilikinya dapat menenangkan pemikiranku yang sudah
jauh melalangbuana menghampiri segala pemikiran negative yang memenuhi segala
sudut didalam otakku. Foto yang dikirimkan oleh salah satu teman kuliahku yang
menunjukkan sepasang kekasih yang layaknya dimabuk cinta dan terlupakan dengan
keadaan sekitar yang begitu ramai dengan banyak orang pun tak dihiraukan mereka
yang begitu asyik bercumbu sehingga melupakan status dari masing-masing
individu itu. Sakit yang kurasakan sangatlah dalam hingga aku pun tak menyadari
seberapa luka yang ditorehkan oleh kedua orang itu kepada diriku hanya untuk
sekedar meneteskan mata pun aku tak sanggup. Kesalahan apa yang telah kuperbuat
hingga terjadi semua ini? Hanya itu yang memenuhi otak dan hatiku dan seberapa
besar andil kesalahanku hingga mereka berani menghianatiku. Hingga satu pesan
kembali muncul kedalam notifikasi smartphone yang berisikan
Aku membuntuti
mereka dan ternyata mereka ke
salah satu hotel
yang ada didaerah dago, hotel XXX
Aku tidak membalas pesan tersebut
hanya membaca kemudian menarik nafas dan menghembuskannya untuk mengambil
keputusan apakah kubiarkan saja seolah tak terjadi apa-apa atau aku mengambil
suatu tindakan tegas yang kemudian tidak akan menambah luka kembali. Aku
mencintai dia, laki-laki yang menemaniku selama 6 tahun ini dan aku pun
menyayangi sahabaku tetapi aku lebih menyayangi diriku sendiri karena ketika
aku hanya menutupi bau bangkai kemudian bau itu akan muncul lagi dan baunya
akan semakin lebih parah ketika aku menutupinya lagi akan membuatku jauh lebih
sakit dari saat ini dan aku tidak menginginkan itu dan pada akhirnya yang
kupilih menelepon sahabatku lainnya untuk menemaniku menghadapi kenyataan.
Kudatangi hotel yang sebelumnya
telah diberitahu kepadaku, berat sekali langkah kakiku saat ini seakan aku
memakai sepatu berbahan dasar besi yang membuatku kesusahan melangkah dan
dilain pihak para sahabat yang menemaniku yang tak lain Putri, Salsa dan Clara
tak henti-hentinya menyemangatiku dan menguatkanku untuk menghadapi kenyataan
pahit ini tak ada cacian makian yang biasa mereka ketika melihat sesuatu yang
membuat mereka jijik. Sesampai di pintu kamar yang telah diberitahukan
resepsionis sebelumnya yang beruntunglah bagiku karena hotel yang dipilih
mereka merupakan hotel yang dimiliki oleh paman clara sehingga birokrasi yang
dilakukanpun tidak cukup sulit bagiku karena para karyawannya langsung menuruti
apa yang dikatakan paman clara dengan bermodalkan kartu akses untuk memasuki
kamar tersebut cukup membuatku goyah dengan melihat adegan yang akan
dpertontonkan dua insan tersebut tetapi energi kekuatan yang diberikan para
sahabatku cukup untuk membuatku kuat menghadapai kenyataan yang ada dihadapan
ku saat ini. Saat aku memasukkan kartu lampu menunjukkan warna hijau yang
menandakan pintu dihadapanku dapat dibuka aku hanya bisa pasrah dan langsung
membuka pintu tersebut dan jelas apa yang kutakutkan selama perjalanan
terjadilah, adegan yang mereka tunjukkan bagaimana mereka menikmati aktivitas
tersebut membuat duniaku runtuh seketika tidak satupun tetes air mata yang
keluar dan tidak ada cacian yang keluar mulutku hanya senyuman dan sederet
kalimat yang tidak ingin kuucapkan tetapi harus kulakukan.
“Terimakasih atas penghianatan yang
kamu lakuin kepadaku. Aku minta maaf kalo aku kurang dalam membuatmu bahagia
dan aku minta maaf karena aku, pada akhirnya kamu selingkuh. Aku harap kamu
bahagia dengan jalan yang kamu pilih terimakasih untuk 6 tahun terbaik yang
udah kamu kasih keaku.” Hanya sederet kalimat itu yang dapat kuungkapkan dan
kuputuskan untuk keluar dari ruang laknat itu.
Satu pikiranku saat itu inilah
akhirnya aku dan Nico, hanya lah sebuah cerita pahit. Langkah kaki kubuat
sangat lebar hingga aku tidak mendengar penghakiman yang dilakukan para
sahabatku kepada dua insan tersebut.
Masih
teringat jelas diingatanku bagaimana setelah malam itu Nico selalu mengunjungi
apartemenku hanya untuk sekedar meminta maaf dan mengirimiku sms setiap paginya
dengan kata maaf begitu juga sahabatku Annisa yang meminta pengampunan dariku
hingga aku mendapatkan pesan dari Nico yang menginformasikan bahwa ia mengambil
tawaran pekerjaan dinegara kanguru untuk melupakanku dan semua kenangan yang
sudah kita buat disini karena aku tak akan pernah memaafkannya bahkan kembali
kepelukannya.
Jujur
saat aku mendengar kabar dia telah kembali ke Indonesia mengambil tawaran
pekerjaan dinegara kelahirannya membuatku kembali kedalam ingatan masa lalu
yang sangat kelam itu tetapi aku mencoba berdamai dengan diri sendiri hingga
pada akhirnya aku tidak sengaja bertemu dengannya yang akan menjadi atasanku
diperusahaan dan pada kenyataannya aku tidak pernah bisa berdamai dengan masa
lalu.
“Ana?”
Tertegun kemudian kutatap Clara yang memanggilku
“I’m
fine, ra. As long as you look at me now.” Jawabku tegar menutupi diriku yang
rapuh saat ini..
“We
know that you aren’t fine at all!” Tegas Clara “Dia jadi atasan kamu bukan
dikantor?”
Helaan
nafas yang keluar dariku saat ini
“Na
itu bener?” Tanya Putri kembali dan hanya anggukan yang dapat kuberikan
“Kenapa
dia harus kembali sih.” Gerutu Salsa
Hanya
keheningan yang dapat kuberikan bagaimana hari-hariku akan kembali dipenuhi
oleh lelaki yang sampai saat ini pun memiliki tempat khusus dihatiku, aku pun
tidak bisa munafik jika aku tidak bis menemukan satu pun laki-laki untuk
menggantikan Nico Kusuma Wijaya because I still loving him until now.
***
Kujalani
hari-hari seperti saat dia tidak ada disini tetapi tetap saja itu tidak bekerja
sama sekali karena setiap hari pula aku bertemu dengannya tidak dilift, lalu
Lalang menuju ruangan, kantin kantor even saat aku membuat kopi seperti saat
ini.
“Masih
setia dengan kopi hitam tanpa gula?” Tanyanya basa basi
“Hemmm.”
Ujarku dan berlalu agar tidak terjadi percakapan selanjutnya, helaan nafas
berat seperti orang putus asa yang kudapatkan darinya entah apa maksud dari
semua ini.
Percakapan
pertama dan terakhir yang kujanjikan dalam hatiku sendiri tetapi takdir berkata
lain itu bukanlah percakapan terakhir yang kulakukan dengannya karena kesialan
menghampiriku dimana ban mobilku kempes disaat semua orang telah kembali
kerumahnya masing dan hanya tersisa mobilku dan mobil Nico yang kemungkinan
sipemilik mobil tersebut masih berada didalam kantor. Semua orang yang masuk
dalam kontak ponsel genggamku tidak ada satupun yang menerima hingga sipemilik
mobil yang berada diseberang mobilku keluar dari gedung dan menghampiriku.
“Kempes
yah? Ini udah malem enggak ada yang mau kesini udah jam 12 malem juga kalo kamu
mau aku anterin gimana? Tapi kalo enggak mau aku enggak maksa.” Ujarnya yang
mulai meninggalkanku.
“Kenapa
enggak nanya aku ban cadangan enggak?” Tanyaku untuk menghentikan langkahnya
“Aku
tau kamu enggak nyimpen ban cadangan dimobil kamu. Kebiasaan buruk kamu akan
hal-hal gitu pasti masih berlanjut.” Jawabnya sambil tersenyum bukan jenis
senyum mengejek “Mau ikut aku atau enggak?”
“I…iya.”
Ujarku lebih baik aku menumpangnya dari pada harus menunggu taksi online.
Sepanjang
perjalanan tidak ada satu patah katapun yang terucap hanya keheningan saja,
Nico bukanlah laki-laki yang menyukai suara radio ataupun music didalam
mobilnya menurutnya lebih keheningan yang dia dapatkan dari pada suara satu
arah yang ia dapatkan. Sesampainya di apartemenku tidaklah sopan jika aku tidak
menawari orang yang telah membantuku untuk sekedar mampir setidak minum the
tanda terima kasih dan sialnya orang ditawari menerima tawaran itu dan
disinilah kita diapartemenku yang tidak luas karena aku hanya mengambil yang
studio saja mengingat yang menghuni hanya ku sendiri saja.
“Selera
kamu enggak pernah berubah yah.” Gumamnya yang tidak kubalas
“Kopi
atau teh?” Tanyaku
“Chamomile,
please.”
“Ada
masalah?” Tanyaku tiba-tiba, aku masih mengingat kebiasaannya yang minum
chamomile tea jika ada masalah
Senyuman
yang memiliki sejuta arti sampai aku memahami pertanyaan kuajukan. Shit!
“Ternyata
kamu masih inget kebiasaan aku.” Ujarnya
“A…”
ujarku terbata hingga interupsi yang kudapatkan
“Mama
minta aku menikah dan jika aku enggak mendapatkan pasangan mama akan
menjodohkan aku dengan anak temannya.”
Bagaikan
dihantam oleh sebuah batu yang sangat besar hingga tidak satupun yang dapat
terucapkan dari mulutku tetapi harus kulakukan “Oh…it’s good! Umur kamu juga
udah cukup matang untuk menikah.”
Tidak
jawaban darinya hanya keheningan yang menjadi jawabannya dan aku tidak akan
memaksa untuk memberikan jawaban karena menata hati saat menerima kabar ini
saja cukup membuat seolah-olah terjun dari gedung berlantaikan 38. Sambil
menyiapkan secangkir chamomile tea untuknya dan diriku laki-laki yang masih
memiliki tempat dihatiku hanya terpaku memandang pemandangan yang disajikan
kota Jakarta dimalam hari dengan beribu lampu yang menghiasi setiap sudut kota.
“Here’s
your chamomile tea.”
“Thanks.”
Ujarnya sambil menyeruput the tersebut begitu juga dengan diriku
“Aku
ingin menikah dengan pilihannku.” Ujarnya kembali
Kutatap
matanya, mata yang selalu bisa menenangkanku dari setiap kegelisahan yang buat
sendiri dan mata itu tetap sama selalu bisa menenangkanku.
“Aku
hanya ingin menikah denganmu Athena Raina Putri.”
Cukup
membuatku tersentak laki-laki yang memberikanku cinta dan juga memberikanku
luka setelah 3 tahun berlalu dan sekarang ia memintaku untuk menikah.
“Aku
tahu kamu pasti tidak akan menerima laki-laki yang sudah memberikan luka yang
sangat dalam kepadamu tetapi aku tidak bisa membohongi diriku karena kamu
satu-satunya yang dapat membuatku memikirkanmu tanpa henti bukan jenis perasaan
bersalah tetapi cinta. Aku mencintai kamu. Maafkan kebodohanku yang tergiur
dengan perempuan lain dan saat ini aku tidak mau melakukan kesalahan lagi aku
menginginkanmu menjadi ibu dari anak-anakku. Sebenarnya kedatanganku ke
Indonesia dan keperusahaan bukan tanpa sebab saat dua tahun lalu aku menjalani
kehidupan di Aussie dan juga untuk melupakanmu papa meminta aku mengurus
perusahaan aku sempat menolak tetapi papa memohon hingga akhirnya aku
memutuskan untuk mengambil alih posisi papa dan kemudian melakukan akuisisi di
perusahaan tempatmu bekerja hingga saat kunjunganku keperusahaan aku kembali
melihatmu saat itu ingin sekali aku menghampirimu tapi aku tau pasti kamu tidak
akan pernah mau bertemu denganku hingga
saat mama memintaku menikah karena mama dan papa menginginkan cucu dariku
sedangkan aku tidak memiliki keinginan untuk menikah dengan siapapun karena
tanpa kusadari telah kuberikan semuanya hatiku padamu. Mama meminta menikah
dengan anak temannya tetapi yang kuinginkan hanya lah kamu dan mama memberikan
aku waktu untuk membawamu bertemu mama. Apakah kamu mau?” Ujar Nico hati-hati
Pernyataan
yang membuatku untuk kesekian kalinya bagaikan terjun dari atap gedung yang
tinggi, semuanya seakan bergejolak keinginanku dan keegoisanku memulai perang
untuk menentukan siapa pemenangnya. Hening. Keheningan yang kembali menyerang
kita. Nico yang menunggu jawabanku dengan hati-hati sedangkan aku menunggu
siapa sang pemenang hingga akhirnya sang pemenang keluar.
“Menurutmu
apakah masa lalu bisa diulang kembali? Tidak bisa kan. Begitu juga kisah kita
tidak akan pernah terulang kembali.” Keegosian lah yang menjadi pemenang
tunggal.
“Tidak
perlu mengulang masa lalu kita buat cerita baru tentang kita mulai dari awal
seperti kamu tidak mengenalku dan aku pun tidak mengenalmu.”
“Nic,
it’s nothing future for us so why we must to start it again? Aku rasa
pembicaraan kita selesai sampai disini pintu keluar ada disana kalo kamu udah
selesai dengan tehnya silahkan pergi karena aku harus istirahat.”
“Dua
minggu lagi aku akan ke Jogja untuk bertemu dengan mama aku harap kamu sudah
berubah pikiran dan terimakasih untuk chamomile teanya.” Ujarnya sambil
beranjak untu keluar
“Aku
tidak akan pernah berubah pikiran.”
Setelah
kepergiannya entah kenapa hatiku seakan dihancurkan hingga berkeping-keping
melebihi malam dimana Nico menghianatiku, membayangkannya akan memiliki seorang
istri yang bukan diriku dan memiliki seorang anak bukan dariku membuatku sangat
sesak hingga tak terucapkan. Aku menginginkannya tapi keegoisan dan kegengsian
yang kumiliki begitu besar hingga aku berani untuk melepaskannya hanya untuk
sekedar keegoisannku semata.
***
Hari-hari
yang kujalani setelah malam itu seakan hanya formalitas saja yang menyatakan
aku masih hidup dan masih bisa untuk menjalani kehidupan ini setelah apa yang
kulakukan. Setidaknya hanya akan menyakitiku tidak dengan orang sekitar yang
mengkhawatirkanku untuk masuk kelubang yang sama aku pun tidak bisa membohongi
diri sendiri aku mencintainya. Sangat mencintainya. Terlepas dari penghianatan
yang telah dilakukannya aku tetap mencintainya dengan kadar yang sama saat
sebelum ia menghianatiku. Sepertinya yang mengalami cinta buta adalah aku dan
bukan orang lain. Aku menghina mereka serendah rendahnya padahal aku menghina
diriku sendiri yang tetap mencintai laki-laki yang memilih untuk memasukkan
orang ketiga didalam hubunganku dengannya dan bukannya memilih jalan untuk
memberitahuku untuk memperbaikinya. Masa lalu akan tetap menjadi masa lalu dan
kesalahan masa lalu itu aku pun turut andil akan terjadinya semua hal tersebut.
Termenung
dengan mesin pembuat kopi yang tengah berbunyi sangat berisik menandakan
aktivitasnya dalam pembuatan kopi terhadap orang yang ingin secepatnya untuk menyeduh
minuman yang penuh akan kafein tersebut. Kafein yang dapat menenangkanku dari
setiap masalah yang tak pernah habisnya menghampiriku anggap saja sebagai
cobaan yang akan indah pada waktunya dan aku percaya akan hal tersebut. Sangat
percaya.
“Mbak
menung aja mikirin gaji belum turun ya mbak ehhee.” Canda Shelly salah satu
anak magang kantorku, anak yang baik dan sangat ceria mengisi divisi yang penuh
dengan tekanan ini dengan keceriaan yang dia ciptakan.
“Ahaha
gaji belum turun tagihan udah ngantri.” Timpalku kembali
“Rontok
enggak mbak rambutnya?”
“Belum
tahap rontok kok masih dalam tahap ubanan aja.” Seketika kembali pecah tawa
receh yang hadir diantara aku dan Shelly.
“Seru
amat sih kalian. Kenapa?” Tanya Fajar salah satu temanku yang selalu membelaku
didalam meeting jika divisiku terkena amuk massa
“Ini
mas gaji belum turun tagihan Mbak Ana udah ngantri aku tanya itu rambut udah
ronntok belum kata Mbak Ana belum sampe tahap itu baru sampe ubanan aja.”
Sontak
tawa Fajar menggelegar seantero lantai yang membuat para budak korporat yang
sedang asyik dengan laptop hadapannya teralihkan akan tawa Fajar yang begitu
membahana bagai halilintar, setidaknya aku bersyukur kerecehan yang dibuat oleh
Shelly mampu membuatku terkecohkan sementara dari beban yang kualami saat ini,
pernyataan yang tiba-tiba Ncio ucapkan malam itu begitu terngiang ngiang
didalam isi kepalaku seakan tidak sudi untukku usir membuat fokusku dari
pekerjaan terpeahkan begitu saja. Baru saja satu persen bebanku menghilang dan
tidak sampai dalam kurun waktu lima menit ia kembali hadir menghantuiku seakan
ia tak rela dikeluarkan dari isi kepalaku hanya dengan kehadiran Nico yang
melihat sekila aktivitas yang saat ini kita lakukan. Terdiam aku dengan tatapan
mata hitam yang terlihat begitu menenangkan seakan menghipnotis orang yang melihatnya
tetapi apa yang terlihat tidaklah menenangkan yang kita bayangkan karena ketika
kita memasuki lebih dalam maka kita akan melihat arus yang begitu deras didalam
matanya yang akan membuat kita tenggelam dan tak dapat mencapai permukaan.
“Ana!!!!!”
Teriakan halus serta cubitan yang bagai digigit semutmerah mampu membuat aku
kembali kepermukaan
“I…Iyaaa.”
Jawabku terbata bata
“Setelah
jam makan siang temui saya diruangan karena ada yang harus saya bicarakan
kepada anda.” Ujarku dengan kalimat yang sangat formal dan lugas entah apa yang
harus ia katakan kepadaku
“Ba…
Baik Pak Nico.” Ujarku sambil menenangkan detak jantung yang bertabu sangat kencang
dan aku pun berharap tak ada satupun orang yang berada didalam ruangan ini yang
dapat mendengarnya selain diriku.
Setelah
selesai meeting yang menegangkan itu ku
langkahkan kaki dengan cepat menuju ruangan untuk mengambil tas dan menaruh
beberapa file untuk segera menuju café terdekat karena aku sangat membutuhkan
kafein lagi yang lebih banyak mungkin untuk menutuoi kegelisahan yang kurasakan
saat entah apa yang diinginkan laki-laki yang mampu membuatku melambung diatas
angin dan juga menjatuhkanku didasar tanah.
Pengunjung
dicafe saat ini tidak terlalu ramai sehingga dapat membuatku setidaknya sedikit
nyaman untuk menenangkan hati yang campur aduk. Secangkir kecil americano
tersaji dihadapanku aroma kopi yang begitu kental seakan akan dapat menenangkan
perasaanku yang tidak dapat dijelaskan saat ini hingga tepukan dipundakku
membangunkanku untuk masuk kedalam dunia nyata kembali.
“Putri?”
ujarku heran
“Yakali
aku berubah jadi Clara.” Jawabnya mengundang tawa kecilku
“Kok
bisa kamu kesini bukannya kantor kamu bukan didaerah ini.”
“Emang
iya tapi dari kemaren aku kepikiran tingkah aneh kamu itu jadi putusin buat
kekantor eh malah ngeliat kamu dicafe ini. Kenapa? Hemm.” Ujarnya kembali
“Enggak
ada kok.”
Tidak
ada jawaban hanya sorot mata yang tidak percaya dan menuntut jawaban dariku.
Putri cukup berbeda dari kita berempat ia bagaikan sosok seorang ibu yang
mengayomi anak-anaknya yang tidak lain dan tidak bukan kamilah anaknya. Ia
memiliki sinyal yang kuat jika terjadi sesuatu yang aneh diantara kita seperti
yang terjadi padaku saat ini.
“Fine!
Nico…” Ujarku menggantung “Nico… Dia… mengajakku menikah.” Ujarku sambil
menutup mata untuk menahan segala perasaan campur aduk yang kurasakan saat ini
sekaligus menahanku untuk tidak mengumpat saat Putri akan memuntahkan segala
ungkapan
Mereka
tahu dengan jelas bagaimana perasaanku dengan Nico karena dari dulu sampai
sekarang pun perasaanku tetap sama tidak ada yang berubah walaupun laki-laki
itu menggoreskan luka yang sangat dalam, begitu dalamnya hingga untukku bangkit
menjadi diriku seutuhnya saja tidak bisa, aku tidak bisa menampik jika aku pun
sudah jatuh terlalu dalam dan dia pun telah menggoreskan namanya dihatiku pun
sangat dalam hingga tidakada satupun yang ada menggantikannya. Hanya helaan
nafas yang dapat kudengar belum ada satu pun kata cacian atau makian yang
kudengar hanya helaan nafas beberapa kali hingga pada akhirnya putri
mengeluarkan ancang-ancangnya untuk melakukan sumpah serapah.
“Hemmm…
Ternyata ini nyata. Kamu mau menikah dengannya, Na?” Tanya Putri lembut
Terpana
aku tidak satupun makian yang terucap dari Putri dan “Ternyata ini nyata?”
“Jangan
terpana gitu.” Ujarnya sambil tertawa renyah
“Are
you seriously?”
“Yep,
gini Athena Ariana Putri tenaga aku… No… kita semua sudah habis semalem
melakukan sumpah serapah ke sumbernya, jadi kita udah enggak ada tenaga.”
Jawabnya diiringi tawa yang begitu renyah
“Kita?”
“Iya.
Aku, Clara sama Salsa siapa lagi.” Ujarnya dan kedua orang yang namanya
disebutkan yang ternyata duduk didepanku keluar dari tempat persembunyian
mereka sejak tadi
“Kalian
sumpah serapah dengan Nico? Beneran enggak ngingau kan?” tidak perlu jawaban
karena dari raut wajah mereka sudah menjelaskan semuanya “Kok bisa.”
“Semalem
dia ngajak kita ketemuan dan udah memberitahu semuanya penyesalan dan rencana
ibunya yang ingin menjodohkannya hingga akhirnya dia ke Indonesia dan ngajak
kamu nikah.” Ujar Salsa
“Jangan
kamu tanya bagaimana cara kita keroyok laki-laki sialan itu.” Ujar Clara
“Semua
jawaban dari kebingungan kamu saat ini hanya kamu yang punya jawabannya, ikuti
kata hatimu jangan ikuti logikamu saat ini karena jawaban kamu yang akan
menentukan kamu akan memilikinya atau melepasnya untuk selamanya dan kita
sebagai sahabat kamu hanya mendukung keputusanmu terlepas dari masa lalu yang
terjadi diantara kita semua.” Ujar Salsa menggenggam tanganku diikuti Salsa dan
Clara seakan mereka memberiku kekuatan untuk menghilangkan setidaknya setengah
dari beban yang kurasakan saat ini.
Setelah
insiden café terjadi saat jam siang tadi membuatku seakan mudah untuk melangkah
aku merasa orang-orang yang menyayangiku dengan tulus mendukung setiap
keputusan yang akan kuambil. Kulangkahkan kakiku tanpa beban menuju ruangan
Nico sesaat aku akan mengetuk pintu ruangannya.
“Mbak
Ana sudah ditunggu bapak diruangan.” Ujar Saras sambil tersenyum yang merupakan
sekretaris Nico dan juga sepupu Nico
“Ah
iya, Sar. Makasih ya.” Ujarku kikuk
***
Tidak
ada perbedaan yang signifikan antara ruanganku dan Nico hanya terletak pada
luas serta beberapa furniture tambahan yang digunakan diruangan ini layaknya
sofa yang tertata rapi sesuai tempatnya kemudian beberapa lukisan yang pada
dasarnya Nico adalah pecinta lukisan sama seperti ibunya yang merupakan seorang
pelukis terkenal di Indonesia. Kulihat Nico yang berdiri menatap pemandangan
yang disajikan oleh ibu kota Jakarta, saat aku semakin mendekatinya wangi
parfum yang tidak berubah ini seakan akan memaksa kembali kemasa lalu masa
dimana aku sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya, masa-masa
indah itu begitu menyenangkan saat kurasakan lagi dan kemudian bayangan masa
lalu yang membuatku terpuruk kembali menghantuiku bagaimana dua orang yang
sangat kucintai dan sayangi menghianatiku. Penghianatan yang membuatku begitu
terpuruk hingga untuk bangkit menjadi diriku semula saja tidak bisa. Bayangan masa
lalu itu begitu menyakitkanku hingga aku tidak dapat membendung bulir-bulir air
yang jatuh dari pelupuk mata.
“Ana!!!
Na!!!” Teriak Nico seakan aku merasakan nada kekhawatiran yang begitu dalam
dari teriakannya.
Kutatap
matanya begitu dalam dan kurasakan kekhawatiran yang begitu dalam dari Nico
terhadapku.
“Nic…Aku
enggak bisa. A…Aku enggak bisa mengulang semuanya kembali.” Ujarku tak sanggup
yang pada akhirnya bulir-bulir air itu berubah menjadi hujan deras.
Tidak
ada satupun kata yang keluar dari Nico hanya pelukan yang ia lakukan padaku,
pelukan yang begitu erat menyalurkan segala kehangatan yang ia miliki saat ini
dan aku merasakan ada kekhawatiran yang tak terucapkan oleh Nico, seakan cukup
dia saja yang merasakannya.
Tidak
ada pembahasan setelah drama yang telah kubuat saat diruang kerjanya bahkan
saat jam telah menunjukkan angka lima yang menandakan waktu kerja telah usai
bagi para karyawan pun tanda-tanda kehadirannya diruanganku pun tidak ada sama
sekali, kuputuskan untuk memperlambat jam pulangku, waktu terus berlalu dan jam
didalam ruanganku pun telah menunjukkan bahwa aku telah menunggu kehadiran
selama kurang lebih dua jam cukup membuatku untuk sadar bahwa Nico tidak akan
keruangannku untuk setidaknya menanyakan kembali untuk kepastian yang ada
tetapi aku rasa seperti dengan drama yang telah kubuat cukup untuk membuat dia
sadar bahwa aku dan dia tidak akan pernah bersatu walau aku sangat
menginginkannya bayangan masa lalu yang begitu menyakitkan itu sangat
menghantuiku.
***
Pagi
hari yang suram ini diawali dengan tangisan awan yang sedang dirundung
kesedihan sangat terasa aura kesedihan itu membuatku sedikit terhanyut akan
kesedihannya hingga saat panggilan telepon diapartemen membangunkan
kesadaranku.
“Iya
ada apa?” Jawabku
“Ibu
maaf ini ada paket untuk ibu.” Ujar resepsionis
“Nanti
saya ambil ke bawah.” Putusku dan kembali menutup sambungan telepon tersebut
Setelah
menutup sambungan telepon tersebut aku bergegas menuju dapur karena saat ini
aku membutuhkan asupan gula yang sangat banyak untuk membangun moodku menjadi
lebih baik. Pepatah bilang jika banyak makan-makanan yang mengandung glukosa
akan memperbaiki moodmu yang sedang tidak baik dan aku ingin mencoba setidaknya
it’s work even just 0.01%. Entah perasaan dari mana yang membuat hatiku seakan
akan merasakan suatu kejanggalan yang bahkan aku pun tak mengetahuinya dan dari
mana hatiku tergerak untuk mengambil paket yang entah dari siapa, kutinggalkan
hot chocolate yang baru saja kubuat.
Kupandangi
paket yang berada ditanganku dengan perasaan yang tak menentu, kotak besar
berwarna biru dongker polos dan tidak ada satupun nama pengirim yang tercantum
didalamnya, ku bawa kotak tersebut menuju kamarku dengan perasaan yang aneh aku
mulai membuka penutup kotak tersebut yang berisikan berbagai macam barang yang
membuatku mengetahui siapa pengirimnya.Nico Kusuma Wijaya. Benda pertama yang
kuambil adalah kacamata dengan satu sisinya pada bagian kanan retak yang cukup
banyak, benda pertama yang membuatku berkenalan dengan Nico, masih teringat
jelas bagaimana aku yang tak sengaja mendaratkan kaki indahku pada kacamata
Nico, aku selalu menyukai Nico yang
memakai kacamata sayangnya hanya dapat kulihat jika laki-laki tersebut sedang
membaca atau berhadapan dengan laptopnya, setelah kacamata kuambil pulpen yang
kuberikan pada Nico saat kelulusannya sewaktu kuliah terdahulu, semua barang
yang kuberikan padanya tersimpan dengan rapi dan tidak satupun yang tertinggal
bahkan surat-suratku yang selalu kutuliskan setiap aku memberikannya hadiah
tidak ada satupun yang hilang, sampai pada satu surat dan aku tahu dengan pasti
ini bukanlah surat dariku.
|
Aku mencintaimu dengan segenap hatiku
dari pertama kali kita bertemu sampai sekarang bahkan jika kamu bertanya
apakah aku masih mencintai saat aku menduakanmu dulu jawabannya iya aku
masih sangat mencintaimu, maafkan aku yang bodoh ini yang tidak bisa
menahan godaan dari wanita lain yang mau memberikan tubuhnya kepadaku.
Maafkan kebodohanku Ana. Aku terlalu bodoh karena termakan bujuk rayunya
yang hanya menginginkan tubuhnya saja. Aku menyesal. Sangat menyesal. Aku
kehilangan seorang wanita yang dapat menerimaku apa adanya diriku. Kamu
yang tidak pernah merubahku dari semua yang kumiliki sedangkan aku yang
selalu merubahmu dari apa yang kamu miliki seharusnya aku bersyukur
memilikimu bukannya malah dan bukannya malah tidak bersyukur dan terbujuk
dengan perempuan lain diluar sana. Aku sangat kehilanganmu seakan akan aku
kehilangan separuh jiwaku, kamu tahu alasanku berhenti memintamu kembali
denganku? Karena pada saat itu aku disadarkan oleh sahabatmu bahwa aku
tidak layak untuk menjadi pendampingmu ada laki-laki diluar sana yang lebih
layak mendapatkanmu dari pada aku tetapi disaat aku berpisah darimu seakan
hatiku telah tertinggal ditempatmu dan tidak mengambil hati itu untuk
diberikan perempuan kemudian saat mama memintaku untuk menikah membuatku
sadar hanya satu wanita yang bisa mendapingiku disaat susah maupun senang.
Kamu. Athena Ariana Putri. Aku hari ini harus kembali ke Australia untuk
menerima perjodohan mama karena aku telah gagal membawamu kembali ke dalam
pelukanku.
Nico Kusuma Wijaya
|
Tidak Ada lagi proses pencernaan dari setiap kalimat
yang ditulisnya didalam surat itu yang terpikirkan olehku hanya mengambil kunci
mobil dan segera ke bandara jika terlambat sedikit saja aku benar-benar
kehilangan laki-laki yang sangat kucintai hingga saat ini. Kulajukan mobil
dengan kencang tanpa peduli dengan klakson yang menegur caraku berkendara yang
seperti orang gila. Layaknya di film percintaan sang pemeran utama akan berlari
sekencang-kencang tanpa tahu arah untuk mencari belahan jiwanya setidaknya aku
tidak seperti mereka karena aku tahu ketika jam pernebangan menuju Sydney yang
ternyata masih 1.5 jam dan aku tahu dimana tujuan pertama yang diambil
laki-laki ini untuk menunggu sampai akhirnya ia akan memutuskan untuk menunggu
digate yang telah ditentukan, tidak peduli dengan tatapan orang sekitar yang
melihat seperti orang gila dari mana yang jelas aku harus menuju starbucks
untuk menemukan laki-laki itu sebelum ia memutuskan untuk menunggu digate,
sesampainya aku distarbucks yang dipenuhi akan pelanggan setianya dan aku sama
sekali tidak menemukan keberadaan Nico, aku tahu persis bagaimana habit dari
Nico yang tidak suka untuk menyia-nyiakan waktu karena waktu adalah segalanya
tetapi tetap saja tidak ada keberadaan laki-laki itu dengan lunglai kuputuskan
untuk keluar dari terminal 3 karena sepertinya laki-laki itu sudah menunggu
digatenya dan aku benar benar sudah kehilangan dirinya. Bulir-bulir air itu
kembali keluar karena tidak sanggup untuk menahannya aku bukanlah wanita kuat
yang seperti terlihat. Kulangkahkan kaki menuju pintu keluar terminal 3 hingga
ada suara yang menghentikan langkahku aku mengenal siapa pemiliki suara itu.
“Nico…”
Ujarku berbalik hingga badan besar tersebut memelukku dengan erat dan aku
merasakan aura kelegaan dari laki-laki ini.
“Jangan
bilang apapun dengan kamu datang kesini it’s mean you don’t allow to go away
from me again karena aku akan mencarimu sampai keujung dunia dan akan
mengurungmu untuk diriku sendiri”
“Are
you psychopath?” kekehku
“Yeah,
just for you.”
Tidak
ada jawaban dari hanya pelukan erat dan kerinduan yang mendalam yang dapat
kuberikan padanya.
“I
love you.”
“I
love you too.”
End.
Data Diri:
|
|
|
|
Nama
|
: Yona Rizkita
Cindo
|
|
Nomor HP
|
: 082177440212
|
|
Email
|
|
|
Nomor Rekening
|
: 9000033094195 A/N Yona Rizkita
Cindo
|
|
Akun Sosial
Media
|
: ynrzktcnd
(Instagram)
|

Comments
Post a Comment